Kisah haru perpisahan AKP Bambang Siswanto di Polsek Sungai Pinyuh, menutup pengabdian panjangnya sebagai anggota Polri dengan penuh kenangan, perjuangan, dan pesan mendalam bagi generasi penerus.

HALAMAN Polsek Sungai Pinyuh sore itu tak seperti biasanya, Kamis (30/4/2026). Tidak ada hiruk-pikuk penanganan perkara atau barisan apel dengan instruksi tegas. Yang tersisa hanyalah keheningan yang perlahan berubah menjadi suasana haru, ketika AKP Bambang Siswanto berdiri di hadapan rekan-rekannya, bukan sebagai komandan, melainkan sebagai sosok yang hendak berpamitan.

Pria kelahiran 14 April 1968 itu mengakhiri perjalanan panjangnya di institusi kepolisian. Sebuah perjalanan yang ia mulai sejak muda, berangkat dari mimpi sederhana yang tumbuh di lingkungan keluarga bernuansa militer.

Sejak kecil, seragam cokelat bukan sekadar pakaian dinas baginya, melainkan simbol cita-cita. Tekad itu mengantarkannya mendaftar menjadi anggota Polri, dan dalam satu kesempatan, ia langsung diterima. Tahun 1989 hingga 1990 menjadi awal pembentukan dirinya saat menjalani pendidikan di SPN Pontianak.

Penugasan pertama membawanya jauh dari kenyamanan. Putussibau, wilayah perbatasan yang sunyi dan penuh keterbatasan, menjadi saksi awal pengabdiannya. Di sana, Bambang bertugas di bidang intelijen, mengawasi pergerakan orang asing. Namun lebih dari itu, ia belajar tentang ketahanan diri.

Keterbatasan listrik yang hanya menyala beberapa jam sehari membuat gelap dan sunyi menjadi bagian dari rutinitas. Tapi justru dalam kondisi itulah, mentalnya sebagai polisi lapangan terasah.

Ia juga tak lupa dengan pengalaman ekstrem saat banjir besar melanda wilayah tersebut. Air yang terus meninggi hingga mencapai leher orang dewasa memaksa mereka beradaptasi dengan cara sederhana.

“Banjir terbesar sampai leher. Kami sampai pakai batang pisang untuk pelampung,” kenangnya, menggambarkan betapa berat kondisi yang pernah ia hadapi.

Seiring waktu, perjalanan kariernya terus bergerak. Ia menjajal berbagai fungsi, mulai dari Bimas, Sabhara, hingga Reskrim. Penugasannya pun berpindah-pindah, dari Mempawah hingga Ngabang. Namun, Sungai Pinyuh menjadi salah satu tempat yang paling membekas di hatinya.

Di wilayah itu, Bambang menemukan sisi lain dari pengabdian. Ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai aparat, tetapi juga membaur dengan masyarakat dan rekan-rekan. Musik menjadi jembatan kebersamaan. Bersama sesama anggota Bhayangkara, ia kerap tampil, bahkan sempat mempelajari lagu-lagu Mandarin—sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

Tepuk tangan penonton menjadi kenangan sederhana yang justru terasa istimewa.

“Di situ kebersamaan terasa sekali,” ucapnya, mengenang masa-masa yang penuh kehangatan.

Namun di balik cerita-cerita itu, ia juga menghadapi realitas keras sebagai penegak hukum. Berbagai kasus kriminal, termasuk tindak kekerasan, pernah ia tangani. Baginya, menjadi polisi bukan sekadar profesi, melainkan komitmen untuk siap menghadapi risiko kapan saja.

Kini, di usia 58 tahun, Bambang menutup lembar pengabdiannya. Masa tugasnya berakhir pada awal Mei, menandai akhir dari puluhan tahun dedikasi di lapangan.

Tak ada pidato panjang dalam perpisahannya. Ia hanya menyampaikan pesan yang sederhana, namun sarat makna—hasil dari pengalaman hidupnya sebagai anggota Polri.

“Jaga disiplin, jaga kesehatan, fisik dan mental. Dan yang paling penting, jauhi narkoba,” pesannya kepada generasi penerus.

Di penghujung momen itu, suaranya sedikit bergetar. Ia menunduk sejenak, seolah menahan kenangan yang berkelindan.

Tak ada riuh tepuk tangan yang memecah suasana. Hanya diam yang terasa lebih dalam dari kata-kata. Sebab bagi mereka yang hadir, perpisahan itu bukan sekadar akhir tugas seorang perwira, melainkan penutup dari perjalanan hidup yang penuh dedikasi, ujian, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

“Saya mohon pamit. Kalau selama ini ada kesalahan, saya minta maaf,” tutupnya.