MEMPAWAH – Direktur Utama PT Borneo Alumina Indonesia Leonard Manurung menjelaskan, SGAR Fase pertama kini berada pada tahap akhir commissioning dan diproyeksikan siap memasuki fase operasi komersial pada kuartal pertama 2025.
“Di tengah penyelesaian SGAR Fase pertama, kami bersama Mind ID, Inalum, dan Antam juga aktif menyusun strategi pengembangan SGAR Fase kedua. Kajian ini meliputi teknologi, pasar, serta aspek keberlanjutan. Kami berharap proyek ini dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok bauksit-aluminium nasional,” ungkap Leonard.
Dia mengatakan, proyek ini didesain dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan keselamatan kerja sebagai prioritas utama, mendukung Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai pasok bauksit-aluminium global.
Pengembangan SGAR Fase pertama dan fase kedua diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, tetapi juga mewujudkan kemandirian industri hilirisasi mineral dalam negeri. Dengan sinergi kuat antara PT Inalum, PT Antam, dan PT BAI, proyek ini menjadi wujud konkret komitmen Indonesia terhadap nilai tambah sumber daya alam dan daya saing industri nasional.
“Bagi Indonesia, SGAR adalah langkah maju untuk memastikan bahwa kekayaan mineral tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah dan dimanfaatkan demi kesejahteraan nasional,” pungkas dia.


