Tumpukan enceng gondok atau kumpai memenuhi aliran Sungai Pinyuh hingga muara laut. Warga mengeluhkan gangguan aktivitas di sungai serta kerusakan pipa penyedot air akibat hantaman kumpai yang hanyut terbawa arus.

SUNGAI PINYUH – Tumpukan tanaman enceng gondok atau yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai kumpai terlihat memenuhi aliran Sungai Pinyuh hingga kawasan muara laut. Fenomena tersebut telah berlangsung sejak Selasa (23/6/2026) dan hingga Rabu (24/6/2026) kondisinya masih terjadi dengan volume yang disebut warga semakin meningkat.

Hamparan kumpai tampak terus hanyut mengikuti arus sungai tanpa terputus. Tumpukan tanaman air itu terlihat mendominasi permukaan sungai dan menjadi perhatian warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Pinyuh.

Salah seorang warga Kampung Api-Api, Hartono, mengatakan tumpukan kumpai masih terlihat melintas di sungai sejak sore hari hingga menjelang malam.

“Sejak sekitar pukul 16.00 WIB sampai magrib masih terlihat kumpai lewat. Bahkan sampai hari ini jumlahnya semakin banyak dan tidak putus-putus hanyut menuju muara,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Menurut Hartono, banyaknya kumpai yang terbawa arus sungai telah mengganggu aktivitas masyarakat yang sehari-hari memanfaatkan sungai untuk kebutuhan rumah tangga.

“Kalau kumpainya banyak seperti ini, warga jadi terganggu saat mandi dan mencuci di sungai. Selain itu, kumpai yang hanyut juga sering menghantam pipa penyedot air milik warga,” katanya.

Ia menjelaskan, tidak sedikit pipa yang mengalami kerusakan akibat derasnya arus yang membawa tumpukan enceng gondok tersebut. Beberapa pipa bahkan patah karena tidak mampu menahan tekanan dan benturan kumpai yang terus mengalir.

Hartono mengakui fenomena kumpai hanyut sebenarnya bukan hal baru bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Namun, menurutnya, kondisi kali ini berbeda karena jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan biasanya.

“Kalau biasanya hanya beberapa jam terlihat kumpai lewat, setelah itu selesai. Tetapi sekarang sudah sejak kemarin sampai hari ini masih terus ada dan volumenya lebih besar,” ungkapnya.

Ia menduga tumpukan kumpai tersebut berasal dari wilayah hulu sungai, tepatnya kawasan Sungai Rasau. Menurut perkiraannya, enceng gondok yang hanyut hingga ke Sungai Pinyuh kemungkinan berasal dari kegiatan pembersihan sungai yang dilakukan di daerah tersebut.

Warga berharap adanya perhatian dari pihak terkait untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, terutama terhadap aktivitas masyarakat di sungai dan kerusakan fasilitas penyedot air yang digunakan warga sehari-hari.

“Kemungkinan kumpai ini berasal dari pembersihan di hulu Sungai Rasau. Setelah dibersihkan, kumpainya hanyut mengikuti arus sampai ke Sungai Pinyuh dan akhirnya menuju laut,” jelas Hartono.