Ratusan warga Sungai Pinyuh, Mempawah, menggelar Salat Istisqa untuk memohon hujan di tengah kemarau panjang dan kabut asap akibat karhutla.
MEMPAWAH – Kemarau panjang yang melanda Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, serta kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong ratusan warga melakukan ikhtiar bersama. Kamis (3/9/2026) pagi, masyarakat menggelar Salat Istisqa untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan.
Salat Istisqa berlangsung di lapangan mini soccer AMC, Jalan Pendidikan, Kecamatan Sungai Pinyuh. Ratusan warga mengikuti rangkaian kegiatan tersebut dengan penuh khidmat.
Kegiatan ini turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sungai Pinyuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat dari berbagai kalangan.
Ustaz Marzuki Kadri dipercaya menjadi imam Salat Istisqa, sedangkan khotbah disampaikan Ustaz Bustomi Busiri.
Pelaksanaan Salat Istisqa menjadi gambaran keresahan masyarakat menghadapi kondisi kemarau yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Minimnya hujan tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga memperburuk persoalan kabut asap yang muncul akibat karhutla di sejumlah wilayah.
Camat Sungai Pinyuh, Ngatmo, mengatakan Salat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun.
“Salat Istisqa ini merupakan salah satu upaya kita bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Sungai Pinyuh juga terdampak kekeringan dan kabut asap karena sudah beberapa bulan tidak turun hujan,” kata Ngatmo.
Menurutnya, turunnya hujan sangat diharapkan masyarakat untuk membantu mengatasi kondisi kekeringan sekaligus membersihkan udara dari kabut asap.
Namun, Ngatmo menegaskan bahwa menjaga lingkungan tetap menjadi tanggung jawab bersama. Di tengah kondisi kemarau seperti saat ini, ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menambah sumber asap.
“Masyarakat untuk saat ini kami imbau tidak membakar sampah. Ini salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak asap,” ujarnya.
Selain persoalan pembakaran sampah, masyarakat juga diminta tidak membuang sampah sembarangan. Ngatmo menilai kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, termasuk kepada anak-anak.
Ia berharap edukasi mengenai kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kebiasaan yang dibangun mulai dari keluarga dan lingkungan sekitar.
“Jangan membuang sampah sembarangan. Ini juga perlu kita edukasikan kepada anak-anak sejak dini, sehingga mereka terbiasa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Warga berharap doa yang dipanjatkan melalui Salat Istisqa segera dijawab dengan turunnya hujan. Selain mengakhiri kekeringan, hujan diharapkan membantu meredakan karhutla dan mengurangi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan tetap berperan aktif mencegah munculnya titik api dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan selama kondisi cuaca masih kering.


