ANJONGAN — Terik matahari Sabtu siang (31/5) tak menyurutkan langkah Athian dan keluarganya menuju kolam renang Goa Maria Anjongan. Di sana, bukan untuk berenang seperti biasanya, tapi untuk melaksanakan sebuah tradisi turun-temurun yang sudah ratusan tahun diwariskan: mandi di Hari Bakcang.

Hari Bakcang, yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek, bagi warga Tionghoa bukan sekadar soal menyantap kue bakcang. Ada makna spiritual mendalam yang menyertainya.

Salah satunya adalah mandi di air yang mengalir, antara pukul 11 siang hingga 1 siang, waktu yang diyakini penuh berkah untuk membersihkan diri dari energi buruk, sekaligus memohon kesehatan dan rezeki yang melimpah.

Bagi Athian dan banyak keluarga Tionghoa lainnya di Sungai Pinyuh, menjaga tradisi bukan berarti menutup mata terhadap realitas. Adaptasi menjadi kunci agar nilai-nilai budaya tetap hidup, meski tak lagi dilakukan di tempat yang sama seperti generasi sebelumnya.

Di kolam renang sederhana itu, suara tawa anak-anak berpadu dengan percikan air. Doa-doa lirih mengalun dalam hati, menyatu dengan aliran air yang membawa harapan bahwa meski zaman berubah, semangat menjaga warisan budaya tetap mengalir, tak pernah surut.

Namun di Sungai Pinyuh, tradisi itu kini dihadapkan pada dilema. Sungai yang selama ini menjadi tempat sakral untuk menjalankan ritual, kini menyimpan ketakutan tersendiri.

“Kalau di sungai bisa sebenarnya, tapi ada isu buaya,” tutur Athian pelan, seraya menatap anak-anaknya yang sudah bersiap di pinggir kolam.

Selain faktor keamanan, kondisi sungai yang sudah tak lagi bersih menjadi pertimbangan lain. Maka, kolam renang dengan air yang tetap mengalir seperti di Goa Maria Anjongan menjadi pilihan realistis, tetap menghormati nilai tradisi, tapi dalam situasi yang lebih aman dan layak.

“Menurut cerita, buaya nggak keluar pas hari Bakcang, tapi tetap saja, kami waspada. Namanya bawa keluarga,” ungkapnya.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, waktu antara pukul 11 hingga 13 siang di hari Bakcang disebut sebagai “waktu Ungsi”, jendela waktu dua jam yang dianggap paling baik untuk melakukan ritual pembersihan diri. Air yang digunakan pun tak boleh sembarangan; harus air yang mengalir, bukan air diam seperti sumur.

“Kalau lewat jam 1 siang, ya sudah lewat jamnya, waktu terbaik itu sekitar jam 12. Kami mandi sambil berdoa dalam hati, semoga tahun ini diberi kesehatan, rezeki yang baik, dan jauh dari hal buruk,” kata Athian sambil tersenyum.