MEMPAWAH — Pagi itu, langit Mempawah terlihat cerah. Di sudut tenang gedung PMI Kabupaten Mempawah, seorang pria bernama Dede Suryadi (39) berbaring dengan senyum tenang. Di lengannya terpasang selang kecil yang menyalurkan darahnya ke dalam kantong donor. Bagi sebagian orang, ini mungkin hal biasa. Tapi hari itu, darah Dede adalah harapan hidup bagi seorang ibu bernama Sukirah, yang tengah berjuang di ruang perawatan RSUD Rubini Mempawah.
“Saya cuma ingin membantu. Setetes darah kita bisa menyelamatkan nyawa manusia,” kata Dede dengan nada bersahaja.
Dede bukan pendonor darah dadakan. Sejak beberapa tahun terakhir, ia secara rutin mendonorkan darahnya setiap tiga bulan sekali. Tak perlu diminta, tak harus menunggu ada yang membutuhkan secara khusus. Donor darah telah menjadi bagian dari gaya hidupnya, sebagai bentuk nyata kepedulian sosial yang ia yakini sebagai panggilan hati.
“Donor darah ini bukan hanya tentang membantu orang lain, Tapi juga tentang kesadaran kita untuk berbagi dan peduli dengan sesama. Saya percaya, di dunia ini kita harus saling menolong. Kalau bukan kita, siapa lagi?,” ucapnya.
Kisah Dede bukan tentang pencitraan atau sorotan media. Ia datang ke PMI dengan niat tulus. Tanpa selebrasi. Namun tindakannya hari itu sangat berarti bagi Ibu Sukirah, seorang pasien yang sedang membutuhkan transfusi darah untuk terus bertahan.
PMI Kabupaten Mempawah pun tak tinggal diam. Mereka menyambut kedatangan Dede dengan penuh hormat. Aksi kecil yang berdampak besar ini menjadi pengingat bagi banyak orang tentang kekuatan kebaikan yang sederhana.
“Kami sangat mengapresiasi langkah Bapak Dede. Kepeduliannya bisa menjadi contoh nyata bagi masyarakat lainnya. Donor darah bukan hanya tindakan medis, tetapi juga aksi kemanusiaan,” kata Arief Rinaldi, Ketua PMI Kabupaten Mempawah.
Apresiasi tersebut bukan tanpa alasan. Karena menurut dia, di tengah hiruk pikuk kehidupan yang sering kali sibuk dan individualistis, kisah Dede adalah oase, cerita tentang seseorang yang tak menunggu momen besar untuk berbuat baik, cukup satu kantong darah, cukup satu niat tulus.
“Ketulusan inilah yang menjadi kebaikan bagi sesama manusia,” tuntasnya.
Dan hari itu, di balik kaca ruang perawatan RSUD Rubini, mungkin ada sepasang mata yang tak bisa berkata apa-apa, tapi berterima kasih dari lubuk hati terdalam. Karena hidupnya bertahan, berkat setetes darah dan kepedulian dari seseorang yang bahkan tak ia kenal.


