MEMPAWAH — Pagi itu, mentari belum tinggi saat halaman Surau Alqodim di Komplek Asrama Suharto mulai dipenuhi aktivitas. Aroma khas rerumputan basah dan udara yang masih segar bercampur dengan hiruk pikuk persiapan penyembelihan hewan kurban. Wajah-wajah penuh harap, dari anak-anak hingga orang tua, menyambut hari yang penuh makna: Idul Adha.

Namun, ada yang berbeda pagi itu. Bukan sekadar penyembelihan rutin, melainkan sebuah momentum yang mempertemukan dua dunia; prajurit TNI dari Kodim 1201/Mempawah dan masyarakat sipil dari Desa Kuala Secapah; dalam semangat kebersamaan.

Dandim 1201/Mempawah, Letkol Inf Benu Supriyantoko, S.H., tampak hadir di tengah warga. Ia tidak berdiri sebagai seorang komandan, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang ingin berbagi. Bersama jajaran perwiranya, seperti Kapten Arm Buntoro Nugroho, Lettu Inf Efendi, dan Letda Inf Ramelan, ia memulai proses penyembelihan dengan khidmat dan tenang.

Dua ekor hewan kurban, seekor sapi Madura dan kambing Jawa Randu, menjadi simbol pengorbanan dan kasih sayang yang hendak dibagikan. Penyembelihan dimulai pukul 08.30 WIB. Setelah itu, tangan-tangan cekatan mulai bekerja: memotong, menimbang, dan mengemas daging dalam kantong-kantong plastik seberat satu kilogram.

Sekitar pukul 10.00 WIB, proses distribusi dimulai. Daging dibagikan bukan hanya untuk para prajurit, tetapi juga untuk masyarakat sekitar asrama. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Yang ada hanyalah senyum dan ucapan terima kasih yang tulus.

Letkol Benu menuturkan bahwa kurban tahun ini bukan semata-mata rutinitas, tetapi upaya menumbuhkan nilai keikhlasan dan solidaritas sosial.

“Kami ingin menjadikan Idul Adha ini sebagai momen untuk memperkuat empati, agar semangat berbagi tidak hanya terjadi sekali setahun,” ucapnya hangat.

Di sela-sela keramaian, seorang ibu paruh baya bernama Mak Cik Rohani terlihat memeluk erat kantong daging yang baru diterimanya. “Alhamdulillah, rezeki hari ini. Senang bisa kumpul dengan bapak-bapak tentara. Mereka ramah,” ujarnya sambil tersenyum.

Kegiatan berakhir pukul 10.30 WIB. Namun, pesan yang tertinggal jauh lebih lama: bahwa kebersamaan, jika dirajut dengan tulus, bisa menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara penjaga bangsa dan rakyat yang dilindunginya.

Di halaman surau itu, daging mungkin telah dibagi. Tapi yang sesungguhnya tersebar adalah rasa saling peduli, dan itu jauh lebih bernilai dari sekadar satu kilogram daging.