Kisah Iwan, pengamen tuna netra yang mengamen dari kota ke kota. Di Sungai Pinyuh, ia tetap tegar mencari nafkah demi keluarga dengan suara emasnya.

SUNGAI PINYUH – Di tengah hiruk pikuk Kota Sungai Pinyuh, suara merdu seorang pria tuna netra menjadi perhatian warga yang melintas. Dialah Iwan, 43 tahun, seorang pengamen yang telah puluhan tahun menjadikan musik sebagai jalan hidup dan sumber nafkah bagi keluarganya.

Iwan telah mengamen sejak tahun 2000. Dengan keterbatasan penglihatan, ia tetap menyusuri berbagai kota—Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Sintang hingga Nanga Pinoh. Suaranya menjadi hiburan sekaligus harapan untuk membawa pulang rezeki bagi istri dan anaknya.

Berkat speaker sederhana seharga Rp600 ribu dari hasil arisan, Iwan dapat terus bernyanyi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Ia tidak pernah pergi sendirian. Seorang rekan selalu menemaninya, membantu menavigasi jalan serta menjaga keselamatan selama mengamen.

Setiap hari, penghasilan Iwan berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Hasil itu ia gunakan untuk membeli susu anak, kebutuhan dapur, dan makanan bagi keluarganya yang tinggal di Jalan Tanjung Raya II, Gang Alhamidin, Pontianak Timur.

“Cukuplah, yang penting anak dan istri bisa makan,” ujarnya sambil tersenyum, menunjukkan keteguhan yang tak pernah pudar meski hidup tidak selalu mudah.

Ketika mengamen ke luar kota, Iwan biasa bermalam di masjid bersama rekan-rekannya. Tempat ibadah itu menjadi persinggahan aman bagi mereka yang menghabiskan hari di jalanan untuk mencari nafkah.

Meski tidur seadanya, Iwan tak pernah mengeluh. Baginya, yang terpenting adalah bisa kembali pulang membawa rezeki untuk keluarga.

Kisah perjalanan Iwan bukan sekadar cerita tentang seorang pengamen. Ini adalah kisah tentang ketabahan seorang ayah—yang dengan suara emas dan kesabaran—berjuang melampaui keterbatasan.

Dari Sungai Pinyuh hingga berbagai kota di Kalimantan Barat, Iwan mengajarkan bahwa perjuangan adalah lagu paling indah yang ia nyanyikan setiap hari.