SUI PINYUH – Sekolah Dasar (SD) Bunda Sungai Pinyuh di Kabupaten Mempawah tengah menghadapi krisis operasional serius. Saat dimulainya tahun ajaran baru pada 14 Juli 2025, belum ada solusi konkret yang ditetapkan untuk menjamin keberlanjutan pendidikan di sekolah ini. Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berjalan demi delapan siswa kelas enam yang memilih bertahan hingga tamat.
Guru Ela, salah satu dari dua tenaga pendidik aktif di sekolah tersebut, mengaku tetap semangat mengajar meski dalam berbagai keterbatasan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mengampu hampir semua mata pelajaran karena minimnya jumlah guru.
“Saya sudah dua tahun mengajar di sini. Awalnya kelas lima, sekarang kelas enam. Saya tamatan PGSD dan mengajar IPAS, seni rupa, bahasa Indonesia, matematika, dan pendidikan Pancasila. Sekarang guru yang aktif hanya dua orang,” kata Ella.
Namun, perjuangan itu tidak lepas dari tantangan besar, salah satunya keterlambatan gaji yang kerap terjadi.
“Gaji sering telat, bahkan pernah dicicil. Karena jumlah siswa makin sedikit, kemungkinan yayasan kesulitan mendapatkan pemasukan untuk operasional,” tambahnya.
Situasi ini juga berdampak pada suasana belajar siswa. Valleri, salah satu dari delapan siswa kelas enam, mengaku tetap semangat belajar meski suasana sekolah terasa sepi.
“Memang sepi karena teman sedikit, tapi saya tetap bisa belajar. Saya tidak mau pindah ke SD lain karena ingin tamat di SD Bunda,” ujarnya penuh keteguhan.
Sebelumnya, kondisi ini telah menjadi perhatian publik setelah diberitakan bahwa SD Bunda tengah berada di ujung tanduk akibat krisis operasional. Namun, hingga kini, masa depan sekolah ini masih bergantung pada koordinasi lintas pihak, termasuk pihak yayasan, Dinas Pendidikan, serta dukungan dari pemerintah daerah.
Meski berada di tengah keterbatasan, sekolah ini memastikan bahwa seluruh siswa yang bertahan akan tetap bisa menuntaskan pendidikan dasar mereka. Mereka akan mendapatkan ijazah secara sah dan berhak melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kisah SD Bunda menjadi potret nyata tantangan dunia pendidikan di daerah yang memerlukan perhatian lebih dari semua pemangku kepentingan, agar pendidikan yang layak dan bermartabat bisa tetap dijangkau oleh semua anak, tanpa terkecuali.


