MEMPAWAH – Jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Mempawah, fenomena munculnya akun-akun media sosial palsu semakin menjadi sorotan. Akun-akun ini kerap digunakan untuk menyebarkan komentar negatif, bahkan menyerang pasangan calon secara tidak etis.

Nahdlatul Rahmadhani, seorang praktisi media sosial yang akrab disapa Dani, memberikan analisisnya terhadap situasi ini. Menurutnya, fenomena ini bukanlah hal baru dalam dunia politik, terutama saat kompetisi Pilkada berlangsung.

“Saya yakin masyarakat sudah sama-sama tahu tentang pola permainan sejumlah simpatisan atau tim sukses pasangan calon yang berlaga pada Pilkada tahun ini,” ungkap Dani.

Sebagai representasi generasi muda, khususnya Gen Z, Dani mengaku sangat tidak setuju dengan praktik tersebut. Ia menilai akun palsu menciptakan iklim politik yang tidak sehat dan berpotensi menyesatkan publik.

“Yang pertama, ini fake atau bohong. Selanjutnya, pelan tapi pasti, ini akan menimbulkan informasi yang menyesatkan, bahkan berpotensi timbulnya fitnah,” tegasnya.

Dani juga menyoroti dampak psikologis dari konten negatif yang terus muncul di media sosial.

Dand”Kami para Gen Z setiap hari disuguhkan dengan informasi atau komentar kebencian, kata-kata kasar, yang sedikit banyak akan Nahdlatul Rahmadhani berpengaruh pada kondisi psikologis kami,” katanya.

Dani mencontohkan pola serangan yang kerap terjadi di Mempawah. Menurutnya, setiap kali pasangan calon memposting kegiatan atau rencana program kerja, akun-akun palsu langsung menyerangnya dengan komentar negatif, terlepas dari seberapa baik konten tersebut.

“Awalnya saya merasa aneh. Setelah saya cek, akunnya tidak memiliki pengikut atau kalaupun akun asli, bukan domisili daerah sini,” jelas Dani.

Dia, yang aktif menggunakan media sosial, mengaku bisa membedakan mana akun asli dan palsu berdasarkan pola interaksi dan kontennya.

Dani berharap masyarakat Mempawah, khususnya pengguna media sosial, lebih bijak dalam menanggapi komentar yang bernada kebencian.

“Dengan adanya situasi yang tidak mengenakkan seperti ini, saya berharap para pengguna media sosial di Kabupaten Mempawah dapat lebih teliti membaca komentar. Jika terlalu hate speech, kemungkinan besar itu akun palsu yang dimainkan,” ujarnya.

Sebagai putra daerah Mempawah, Dani percaya masyarakat setempat terkenal ramah dan bersahabat. Ia merasa tidak mungkin warga asli mempertontonkan perilaku negatif seperti yang sering terlihat di media sosial.

“Saya lahir dan besar di Mempawah. Saya yakin rata-rata orang yang benar-benar tinggal di sini terkenal ramah dan bersahabat. Saya rasa tidak mungkin mempertontonkan perilaku negatif,” tutupnya.

Dani mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga Pilkada tetap kondusif dan menjadikan media sosial sebagai ruang positif untuk mendukung demokrasi.