MEMPAWAH – Zulkarnain (47), seorang buruh harian lepas asal Desa Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir, hanya bisa pasrah saat rumah yang selama ini ia tempati bersama istri dan tiga anaknya akhirnya roboh. Rumah berukuran kecil 4×5 meter yang selama ini mereka tinggali, kini hanya menyisakan kenangan dan harapan akan tempat tinggal yang layak.
Bertahun-tahun Zulkarnain tinggal di rumah sederhana berdinding kayu simpiran dan beratap daun. Tiang-tiang penyangganya hanya dari batang kayu bulat, sementara lantainya berasal dari papan kayu kelapa. Rumah ini merupakan pemberian pamannya sekitar lima tahun lalu. Setelah sang paman wafat, rumah beserta tanahnya dijual kepada Zulkarnain dengan harga murah, hanya Rp3 juta. Saat itu, status tanah masih berupa SKT, namun kini telah bersertifikat SHM setelah mengikuti program Prona pemerintah.
“Rumah itu sudah tua dan rapuh. Kalau angin kencang, saya selalu khawatir. Kadang-kadang serpihan kayu lapuk jatuh dari atas,” ujar Zulkarnain.
Kondisi itu semakin memburuk. Akhirnya, seminggu lalu, ia memutuskan untuk merobohkan rumah tersebut karena khawatir akan keselamatan keluarganya, terlebih dengan intensitas cuaca ekstrem belakangan ini.
Dengan berat hati, keluarga Zulkarnain harus mengungsi ke rumah mertuanya. Keputusan itu diambil atas saran dari sang mertua, meskipun tidak semua anggota keluarga merasa nyaman dengan kondisi tersebut.
“Anak-anak, terutama yang kecil, tidak betah tinggal di rumah neneknya. Mereka sudah terbiasa di rumah yang lama, meskipun kondisinya seperti itu,” tuturnya lirih.
Kini, Zulkarnain hanya bisa berharap ada bantuan dari pemerintah melalui program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Sebab, dengan pekerjaan serabutan sebagai buruh harian lepas, ia merasa tidak sanggup membangun rumah baru dari hasil jerih payahnya sendiri.
Cerita Zulkarnain mencerminkan realita banyak keluarga kurang mampu yang hidup dalam keterbatasan, dan membutuhkan uluran tangan serta perhatian dari berbagai pihak untuk mendapatkan hunian yang layak dan aman.
“Kalau ada bantuan bedah rumah, saya sangat bersyukur. Saya ingin punya rumah lagi, walaupun sederhana, yang penting aman buat anak istri,” harapnya.


