SPBU 64.783.01 Sungai Pinyuh tidak beroperasi pada pagi Idulfitri, membuat warga kesulitan mendapatkan BBM dan menghambat aktivitas silaturahmi.
SUNGAI PINYUH – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Sungai Pinyuh dikeluhkan masyarakat pada momen Hari Raya Idulfitri, Sabtu (21/3/2026) pagi. Pasalnya, SPBU 64.783.01 yang biasanya beroperasi selama 24 jam justru tidak memberikan pelayanan dan terlihat tutup pada pagi itu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tidak terlihat aktivitas di area SPBU. Baik petugas operator maupun keamanan tidak berada di lokasi, sehingga warga yang datang sejak sebelum waktu salat Ied harus menunggu tanpa kepastian waktu operasional.
Meski antrean tidak seramai hari-hari sebelumnya, kondisi tersebut tetap menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat. Salah seorang warga, Amuk, mengaku telah datang sejak dini hari untuk mengisi bahan bakar.
“Saya sudah dari pukul tiga pagi di sini, berharap bisa isi bensin, tapi SPBU-nya belum buka,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Rendy, warga Sadaniang, yang rela datang lebih awal dari luar daerah demi mendapatkan BBM dengan harga lebih terjangkau.
“Di daerah saya harga Pertalite bisa sampai Rp30.000 per liter. Saya datang ke sini sejak jam empat pagi, tapi ternyata masih tutup juga,” katanya.
Sementara itu, salah satu pekerja SPBU yang biasa bertugas sebagai operator nosel, menyebutkan bahwa ketersediaan BBM sebenarnya mencukupi, khususnya untuk jenis Pertalite. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan SPBU belum beroperasi.
“Stok ada, tapi petugas lainnya belum datang. Mungkin buka setelah salat Idulfitri,” ujarnya.
Pemilik SPBU, Ajung, ketika dikonfirmasi mengatakan keterlambatan pembukaan SPBU dikarenakan pegawai SPBU melaksanakan salat Idulfitri.
“Jadi jam 10 pagi tadi kita sudah buka. Karena sebagian besar pegawai kita melaksanakan salat ied, makanya agak terlambat,” singkatnya.
Masyarakat berharap kejadian ini segera mendapat perhatian, mengingat kebutuhan BBM tetap tinggi saat Idulfitri. Keterbatasan bahan bakar dinilai menghambat mobilitas warga, terutama dalam menjalankan tradisi silaturahmi.


