Mempawah – Badan Pemadam Api Wajok (BPAW) resmi terbentuk di Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, Senin (31/8/2026).

Kehadiran organisasi pemadam kebakaran swasta tersebut menjadi langkah baru masyarakat dalam memperkuat kesiapsiagaan dan respons awal terhadap potensi kebakaran di wilayah Wajok dan sekitarnya.

BPAW dibentuk dengan mengedepankan semangat kerelawanan dan misi kemanusiaan. Sebanyak 30 warga Kecamatan Jongkat bergabung sebagai pengurus sekaligus petugas pemadam kebakaran, dengan anggota berasal dari Desa Wajok Hilir, Wajok Hulu dan Jungkat.

Pendiri sekaligus Ketua BPAW, Diko Eno, mengatakan pembentukan organisasi tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.

Menurutnya, BPAW menjadi organisasi pemadam kebakaran swasta pertama yang dibentuk secara khusus di wilayah Wajok.

“Tujuan dibentuknya BPAW ini tidak ada tujuan lain selain misi kemanusiaan. Bukan untuk unjuk gagah-gagahan. Kita melihat musibah kebakaran bisa datang kapan saja dan di mana saja, terutama di wilayah yang membutuhkan kesiapsiagaan,” kata Diko Kamis (10/9/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan BPAW diharapkan dapat memberikan pertolongan awal ketika terjadi kebakaran. Petugas dapat melakukan penanganan awal sembari menunggu bantuan dari unit pemadam kebakaran lainnya tiba di lokasi.

Sudah Direncanakan Sejak Tahun Lalu

Diko yang juga berprofesi sebagai wartawan di Kalimantan Barat menegaskan, pembentukan BPAW sebenarnya telah direncanakan sejak lama dan tidak secara khusus dilatarbelakangi situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi belakangan ini.

Meski waktu pembentukan organisasi bertepatan dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, rencana mendirikan pemadam kebakaran tersebut menurut Diko sudah muncul sejak tahun sebelumnya.

“Banyak yang mungkin salah kaprah atau salah paham. Saya sebenarnya sudah lama berniat mendirikan pemadam ini. Sudah dari tahun lalu. Bukan karena adanya karhutla, hanya memang momennya bertepatan dengan kondisi siaga karhutla,” ujarnya.

Menurut Diko, membangun organisasi pemadam kebakaran berbasis relawan membutuhkan komitmen dan pemahaman bersama. Para anggota tidak bergerak dengan orientasi finansial, melainkan atas dasar kepedulian sosial dan panggilan kemanusiaan.

“Damkar swasta ini sifatnya kerelawanan dan tidak terikat secara finansial bagi petugas. Karena itu, menggerakkan relawan sosial membutuhkan pemahaman bersama. Tugas pemadam kebakaran adalah tugas mulia untuk membantu warga yang terkena musibah,” jelasnya.

Dibekali Pengalaman Relawan

Diko menyebut sebagian anggota BPAW telah memiliki pengalaman dan keterampilan dasar dalam penanganan kebakaran.

Beberapa di antaranya pernah bergabung dengan organisasi pemadam kebakaran swasta maupun unit pemadam kebakaran yang berada di lingkungan perusahaan di wilayah Wajok.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal awal BPAW dalam menjalankan tugas. Meski demikian, Diko menyadari organisasi yang baru terbentuk masih membutuhkan pembelajaran, peningkatan kemampuan, pelatihan serta dukungan berbagai pihak agar dapat berkembang secara profesional.

Sebelum membentuk BPAW, pihaknya juga telah berkoordinasi dan meminta masukan dari Forum Komunikasi (Forkom) Damkar Swasta Kalbar. Langkah itu dilakukan agar pembentukan organisasi tidak hanya bermodal semangat kerelawanan, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai tata kelola dan tugas pemadam kebakaran swasta.

“Sebelum membentuk BPAW, kami sudah berkoordinasi dan meminta pendapat kepada Forkom Damkar Swasta Kalbar. Kami banyak berdiskusi dengan Pak Ateng Tanjaya (Alfa Tanggo), Pak Eddy Zulkarnaen (Alfa Tanggo 1), hingga abang kami Andhika Fitra Prabella, SH (Alfa Tanggo 3) yang menguasai Command Centre Pemadam Kebakaran. Dari mereka kami mendapatkan banyak ilmu dan arahan tentang bagaimana mendirikan serta menjalankan damkar,” jelasnya.

Fokus Kebakaran Permukiman

Diko menegaskan, fokus utama BPAW adalah memberikan respons terhadap kebakaran di kawasan permukiman warga.

Sementara untuk kebakaran hutan dan lahan, BPAW tidak menjadikannya sebagai fokus utama. Namun, relawan tetap akan mengambil peran apabila kobaran api berada atau mulai mengancam kawasan permukiman.

“Fokus kami adalah pemukiman penduduk, bukan hutan dan lahan. Tetapi kalau kebakaran hutan dan lahan itu sudah mendekati rumah atau mengancam pemukiman warga, tentu kami akan turun dan membantu sesuai kemampuan yang kami miliki,” ujarnya.

Menurut Diko, keberadaan relawan pemadam kebakaran juga tidak bisa dibangun dengan sistem paksaan. Setiap anggota memiliki aktivitas dan tanggung jawab masing-masing sehingga kehadiran di lapangan bergantung pada kondisi dan kemampuan anggota ketika terjadi musibah.

“Kalau di awal-awal ini mungkin kami belum selalu terlihat. Namanya juga relawan, tidak bisa dipaksakan. Tetapi kami akan selalu berusaha hadir semampu kami ketika masyarakat membutuhkan bantuan, khususnya saat terjadi musibah kebakaran,” sambungnya.

Ia menilai semangat kerelawanan justru menjadi kekuatan utama dalam membangun BPAW. Menurutnya, yang terpenting bukan seberapa banyak anggota yang hadir dalam setiap kejadian, melainkan adanya kemauan untuk membantu dengan tetap memperhatikan kemampuan dan keselamatan petugas di lapangan.

Terbuka untuk Dukungan Masyarakat

Diko juga menegaskan BPAW bukan organisasi milik pribadi maupun kelompok tertentu. Organisasi tersebut dibangun sebagai wadah bersama yang terbuka bagi masyarakat yang ingin berkontribusi memperkuat upaya penanggulangan kebakaran di wilayah Wajok.

“BPAW ini bukan punya perorangan, tetapi milik semua masyarakat Wajok. Artinya, siapa pun yang ingin berpartisipasi membangun BPAW, kami terbuka. Dukungan itu bisa berupa donasi untuk operasional maupun bantuan peralatan sebagai penunjang tugas di lapangan,” katanya.

Ia menilai keberadaan organisasi pemadam kebakaran di wilayah Wajok merupakan kebutuhan yang positif bagi masyarakat. Namun, BPAW saat ini masih berada pada tahap awal dan membutuhkan proses panjang untuk membangun sistem organisasi, sumber daya manusia, peralatan serta tata kelola yang baik.

“Mendirikan organisasi pemadam ini di wilayah Wajok sebenarnya merupakan hal yang bagus. Selama ini belum ada yang mendirikan. Kalau ada pihak yang lebih memahami tata kelola organisasi pemadam kebakaran, silakan memberikan arahan dan mengajari kami. Kami sangat terbuka,” ungkapnya.

Bermodal Peralatan Sederhana

Saat ini, BPAW masih menggunakan sejumlah peralatan pemadam kebakaran sederhana sebagai modal awal menjalankan organisasi.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para relawan untuk terus membangun kesiapsiagaan dan meningkatkan kemampuan dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat.

“Saat ini kami berposko sementara tepatnya di Desa Wajok Hilir KM 15,3 Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah. Jika dilihat titik lokasi di Maps, itu berada di Warung Joker,” jelasnya.

Posko sementara tersebut menjadi titik awal bagi relawan BPAW untuk melakukan koordinasi sekaligus mempersiapkan diri ketika sewaktu-waktu dibutuhkan masyarakat.

Ke depan, posko tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi pusat kegiatan dan koordinasi pemadam kebakaran yang lebih representatif.

Diko berharap masyarakat tidak hanya melihat BPAW sebagai organisasi pemadam kebakaran, tetapi juga sebagai bagian dari sistem sosial yang tumbuh dari kepedulian warga.

Karena itu, dukungan, doa, masukan dan kritik dari masyarakat dinilai penting untuk memastikan organisasi dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Ke depan, ia berharap BPAW mampu bertahan dan berkembang, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi wadah regenerasi relawan bagi generasi berikutnya.

“Semoga BPAW dapat bertahan hingga anak cucu kita nanti dan terus melahirkan regenerasi untuk menjalankan misi kemanusiaan, khususnya di Desa Wajok Hilir, Wajok Hulu dan Desa Jungkat. Ini bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi bagaimana kita bisa hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan,” pungkas Diko.