MEMPAWAH – Rasa haru dan bangga menyelimuti halaman upacara HUT KE-80 RI di Kantor Camat Sungai Pinyuh, ketika puluhan anak dari SDN 3 Sungai Pinyuh, bersama alumni dan seorang pelajar SMP Asisi, menapakkan langkah penuh percaya diri. Mereka bukan sekadar tampil di depan panggung, melainkan membawa sebuah kisah besar: perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.

Sanggar OVJ Sungai Pinyuh, di bawah asuhan Bung Ophick Japon dan Liandi, menyiapkan teater kolosal berjudul Di Bawah Sang Saka Merah Putih. Selama tiga hari, para pemain berlatih dengan penuh semangat, menyatukan gerakan, suara, dan ekspresi agar bisa menghadirkan kembali cerita heroik para pejuang.

Momen paling menyentuh terjadi ketika salah satu adegan menampilkan bendera Belanda yang dirobek, menyisakan warna merah dan putih—lambang kedaulatan bangsa. Riuh tepuk tangan pun pecah, seakan penonton ikut merasakan detik-detik lahirnya kemerdekaan.

Tak berhenti di situ, anak-anak ini juga memperlihatkan keberanian lewat adegan pertempuran melawan agresi militer Belanda. Meski masih belia, penghayatan mereka begitu dalam hingga membuat suasana terasa hidup. Bung Ophick Japon turut mendukung dengan mengisi dubbing suara, menambah kekuatan emosi dalam setiap adegan.

Forkopimcam Sungai Pinyuh yang hadir dalam acara tersebut tak segan memberikan apresiasi dengan berfoto bersama para pemain. Para tamu undangan lain pun memuji penampilan yang dianggap luar biasa, bukan hanya karena kualitas pementasannya, tetapi juga karena pesan nasionalisme yang tersampaikan begitu kuat.

“Anak-anak ini memberi bukti bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah pudar, justru terus menyala lewat generasi muda,” ujar Bung Ophick Japon dengan mata berbinar.

Lewat pertunjukan berdurasi 14 menit itu, anak-anak Sungai Pinyuh telah memberikan pelajaran berharga yaitu kemerdekaan bukan sekadar cerita sejarah.

“Tetetapi nilai yang harus dijaga dan diwariskan melalui setiap karya, bahkan dari panggung teater sederhana,” pungkas dia.