MEMPAWAH – Kondisi memprihatinkan rumah milik Ayub Priyadi, warga Jalan Pangsuma, RT 031/RW 009, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, menjadi sorotan. Rumah berukuran 4×6 meter yang dibangun sejak 2009 itu kini dalam kondisi rawan roboh dan sangat tidak layak huni.
Ayub menceritakan, rumah tersebut awalnya dibangun atas inisiatif teman-temannya yang prihatin terhadap kondisinya saat baru menikah dan belum memiliki tempat tinggal.
“Awalnya kawan saya yang mau bantu, karena waktu itu saya baru menikah dan belum punya rumah,” ujar Ayub.
Bahan bangunan rumah itu sebagian besar merupakan sumbangan dari teman dan warga sekitar. Mulai dari atap, dinding kayu simpiran dari sawmil, tongkat rumah dari tetangga, hingga papan dan triplek semua berasal dari bantuan. Bahkan genteng yang digunakan saat ini adalah bekas renovasi bangunan sekolah.
Kini, Ayub telah memiliki tiga orang anak yang tumbuh di rumah sederhana tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi rumah semakin memprihatinkan.
“Kalau angin kencang datang, rumah bisa goyang. Beberapa tongkat juga sudah patah, dan bagian atas dimakan rayap,” katanya.
Kondisi makin parah saat musim hujan. Rumah yang berada di dataran rendah ini kerap terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 65 sentimeter, menyebabkan kayu penyangga lapuk. Keterbatasan ruang juga menjadi persoalan lain.
“Anak-anak sudah besar, tapi kamar masih satu,” tutur Ayub.
Sebagai petani sayur yang hanya mengandalkan hasil dari cabe dan pinang, Ayub mengaku sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk memperbaiki rumah.
“Untuk makan saja sudah pas-pasan. Hasil panen tidak menentu, tergantung musim dan harga jual di pasar,” ucapnya lirih.
Ayub berharap adanya perhatian dari pemerintah, terutama melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
“Kami berharap ada bantuan bedah rumah, agar anak-anak bisa tinggal di rumah yang layak dan aman,” harapnya.


